Hubungan Antara Takdir, Usaha (Sebab), dan Kesembuhan
وَيُقَالُ لِمُورِدِ هَذَا السُّؤَالِ «هَذَا يُوجِبُ عليك ألاتباشر سَبَبًا مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْلِبُ بِهَا مَنْفَعَةً، أَوْ تَدْفَعُ بِهَا مَضَرَّةً، لِأَنَّ الْمَنْفَعَةَ وَالْمَضَرَّةَ إِنْ قُدِّرَتَا، لَمْ يَكُنْ بُدٌّ مِنْ وُقُوعِهِمَا، وَإِنْ لَمْ تُقَدَّرَا لَمْ يَكُنْ سَبِيلٌ إِلَى وُقُوعِهِمَا، وَفِي ذَلِكَ خَرَابُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَفَسَادُ الْعَالَمِ، وَهَذَا لَا يَقُولُهُ إِلَّا دَافِعٌ لِلْحَقِّ، مُعَانِدٌ لَهُ، فَيَذْكُرُ الْقَدَرَ لِيَدْفَعَ حُجَّةَ الْمُحِقِّ عَلَيْهِ، كَالْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ قَالُوا: لَوْ شاءَ اللَّهُ ما أَشْرَكْنا وَلا آباؤُنا «١» ، ولَوْ شاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلا آباؤُنا «٢» . فَهَذَا قَالُوهُ دَفْعًا لِحُجَّةِ اللَّهِ عَلَيْهِمْ بِالرُّسُلِ.
وَجَوَابُ هَذَا السَّائِلِ أَنْ يُقَالَ: بَقِيَ قِسْمٌ ثَالِثٌ لَمْ تَذْكُرْهُ، وَهُوَ أَنَّ اللَّهَ قَدَّرَ كَذَا وَكَذَا بِهَذَا السَّبَبِ. فَإِنْ أَتَيْتَ بِالسَّبَبِ حَصَلَ الْمُسَبَّبُ، وَإِلَّا فَلَا. فَإِنْ قَالَ: إِنْ كَانَ قَدَّرَ لِي السَّبَبَ، فَعَلْتُهُ، وَإِنْ لَمْ يقدّره لي لم أتمكن من فعله.
قِيلَ: فَهَلْ تَقْبَلُ هَذَا الِاحْتِجَاجَ مِنْ عَبْدِكَ، وَوَلَدِكَ، وَأَجِيرِكَ إِذَا احْتَجَّ بِهِ عَلَيْكَ فِيمَا أَمَرْتَهُ بِهِ، وَنَهَيْتَهُ عَنْهُ فَخَالَفَكَ؟ فَإِنْ قَبِلْتَهُ، فَلَا تَلُمْ مَنْ عَصَاكَ، وَأَخَذَ مَالَكَ، وَقَذَفَ عِرْضَكَ، وَضَيَّعَ حُقُوقَكَ. وَإِنْ لَمْ تَقْبَلْهُ، فَكَيْفَ يَكُونُ مَقْبُولًا مِنْكَ فِي دَفْعِ حُقُوقِ اللَّهِ عَلَيْكَ. وَقَدْ رُوِيَ فِي أَثَرٍ إسْرَائِيلِيٍّ: أَنَّ إبْرَاهِيمَ الْخَلِيلَ قَالَ؛ يَا رَبِّ مِمَّنِ الدَّاءُ؟ قَالَ: «مِنِّي» . قَالَ: «فَمِمَّنِ الدَّوَاءُ؟» ؟ قَالَ: «مِنِّي» . قَالَ: فَمَا بَالُ الطَّبِيبِ؟، قَالَ: «رَجُلٌ أُرْسِلُ الدَّوَاءَ عَلَى يَدَيْهِ» .
وَفِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ» ، تَقْوِيَةٌ لِنَفْسِ الْمَرِيضِ وَالطَّبِيبِ، وَحَثٌّ عَلَى طَلَبِ ذَلِكَ الدَّوَاءِ وَالتَّفْتِيشِ عَلَيْهِ، فَإِنَّ الْمَرِيضَ إِذَا اسْتَشْعَرَتْ نَفْسُهُ أَنَّ لِدَائِهِ دَوَاءً يُزِيلُهُ، تَعَلَّقَ قَلْبُهُ بِرُوحِ الرِّجَاءِ، وَبَرَدَتْ عِنْدَهُ حَرَارَةُ الْيَأْسِ، وَانْفَتَحَ لَهُ باب الرجاء، متى قَوِيَتْ نَفْسُهُ انْبَعَثَتْ حَرَارَتُهُ الْغَرِيزِيَّةُ، وَكَانَ ذَلِكَ سَبَبًا لِقُوَّةِ الْأَرْوَاحِ الْحَيَوَانِيَّةِ وَالنَّفْسَانِيَّةِ وَالطَّبِيعِيَّةِ، وَمَتَى قَوِيَتْ هَذِهِ الْأَرْوَاحُ، قَوِيَتِ الْقُوَى الَّتِي هِيَ حَامِلَةٌ لَهَا، فَقَهَرَتِ الْمَرَضَ وَدَفَعَتْهُ.
وَكَذَلِكَ الطَّبِيبُ إِذَا عَلِمَ أَنَّ لِهَذَا الدَّاءِ دَوَاءً أَمْكَنَهُ طَلَبُهُ وَالتَّفْتِيشُ عَلَيْهِ.وَأَمْرَاضُ الْأَبْدَانِ عَلَى وِزَانِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ، وَمَا جَعَلَ اللَّهُ لِلْقَلْبِ مَرَضًا إِلَّا جَعَلَ لَهُ شِفَاءً بِضَدِّهِ، فَإِنْ عَلِمَهُ صَاحِبُ الدَّاءِ وَاسْتَعْمَلَهُ، وَصَادَفَ دَاءَ قَلْبِهِ، أَبْرَأَهُ بإذن الله تعالى
كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٤-١٥ - ابن القيم
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahulllah menjelaskan,
"Dan dikatakan kepada orang yang mengajukan pertanyaan ini (tentang takdir): 'Logika Anda ini mengharuskan Anda untuk tidak melakukan usaha (sebab) apa pun yang dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Karena jika manfaat dan bahaya itu sudah ditakdirkan, maka pasti akan terjadi; dan jika tidak ditakdirkan, maka tidak akan ada jalan untuk merasakannya.'
Sikap seperti ini mengakibatkan hancurnya urusan agama dan dunia serta rusaknya tatanan alam. Tidak ada yang berucap demikian kecuali orang yang menentang kebenaran dan keras kepala, yang menyebut-nyebut takdir hanya untuk menolak argumen orang yang benar atas dirinya. Persis seperti kaum musyrik yang berkata: 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak mempersekutukan-Nya, begitu pula bapak-bapak kami.' Mereka mengucapkan itu hanya untuk menolak hujah Allah yang disampaikan melalui para Rasul.
Jawaban bagi penanya ini adalah: 'Masih ada bagian ketiga yang belum Anda sebutkan, yaitu: Bahwa Allah telah menakdirkan begini dan begitu terjadi MELALUI sebab ini dan itu. Jika Anda melakukan sebabnya, maka hasilnya akan terjadi. Jika tidak, maka tidak akan terjadi.'
Jika ia membela diri lagi: 'Jika Allah telah mentakdirkan sebab itu bagiku, pasti aku melakukannya. Jika Dia tidak mentakdirkannya, aku tidak akan mampu melakukannya.'
Maka dikatakan kepadanya: 'Apakah Anda mau menerima alasan (takdir) ini dari pelayan Anda, anak Anda, atau pegawai Anda jika mereka melanggar perintah dan larangan Anda? Jika Anda menerimanya, maka janganlah mencela siapa pun yang mendurhakai Anda, mengambil harta Anda, mencoreng kehormatan Anda, atau mengabaikan hak-hak Anda. Namun, jika Anda tidak mau menerimanya dari mereka, bagaimana mungkin alasan itu bisa diterima darimu saat Anda mengabaikan hak-hak Allah atas dirimu?'
Telah diriwayatkan dalam atsar Israiliyat: Bahwa Ibrahim Al-Khalil bertanya: 'Wahai Rabb-ku, dari manakah datangnya penyakit?' Allah berfirman: 'Dari-Ku.' Ibrahim bertanya: 'Lalu dari manakah datangnya obat?' Allah berfirman: 'Dari-Ku.' Ibrahim bertanya: 'Lalu apa peran tabib (dokter)?' Allah berfirman: 'Ia adalah seseorang yang Aku kirimkan obat melalui tangannya.'
Dalam sabda Nabi ﷺ: 'Setiap penyakit ada obatnya,' terdapat penguatan bagi mental si sakit maupun dokter, serta dorongan untuk mencari dan meneliti obat tersebut. Sebab, jika si sakit merasa bahwa penyakitnya memiliki obat yang bisa menyembuhkannya, hatinya akan terpaut pada harapan, rasa putus asanya akan mendingin, dan pintu harapan terbuka baginya. Saat jiwanya menguat, energi alaminya akan bangkit, dan itu menjadi sebab kuatnya ruh (vitalitas) jasmani dan rohani. Ketika energi ini kuat, maka kekuatan tubuh yang mengembannya pun ikut kuat, sehingga ia mampu menaklukkan dan mengusir penyakit.
Begitu pula dengan dokter; jika ia tahu bahwa penyakit tersebut ada obatnya, ia akan bersemangat mencari dan menelitinya.
Penyakit badan itu serupa dengan penyakit hati. Tidaklah Allah menjadikan penyakit bagi hati, melainkan Dia telah menyediakan kesembuhan melalui lawannya (obatnya). Jika si penderita mengetahuinya, menggunakannya, dan obat itu tepat mengenai penyakit hatinya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Ta'ala."
📚 Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 14-15

Tidak ada komentar:
Posting Komentar