Memahami Hakikat Kesembuhan Melalui Kesesuaian Da' (Penyakit) dan Dawa' (Obat)
فَإِنَّهُ لَا شَيْءَ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ إِلَّا لَهُ ضِدٌّ، وَكُلُّ دَاءٍ لَهُ ضِدٌّ مِنَ الدَّوَاءِ يُعَالَجُ بِضِدِّهِ، فَعَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبُرْءَ بِمُوَافَقَةِ الدَّاءِ لِلدَّوَاءِ، وَهَذَا قَدْرٌ زَائِدٌ عَلَى مُجَرَّدِ وَجُودِهِ، فَإِنَّ الدَّوَاءَ مَتَى جَاوَزَ دَرَجَةَ الدَّاءِ فِي الْكَيْفِيَّةِ، أَوْ زَادَ فِي الْكَمِّيَّةِ عَلَى مَا يَنْبَغِي، نَقَلَهُ إِلَى دَاءٍ آخَرَ، وَمَتَى قَصَرَ عَنْهَا لَمْ يَفِ بِمُقَاوَمَتِهِ، وَكَانَ الْعِلَاجُ قَاصِرًا، وَمَتَى لَمْ يَقَعِ الْمُدَاوِي عَلَى الدَّوَاءِ، أَوْ لَمْ يَقَعِ الدَّوَاءُ عَلَى الدَّاءِ، لَمْ يَحْصُلِ الشِّفَاءُ، وَمَتَى لَمْ يَكُنِ الزَّمَانُ صَالِحًا لِذَلِكَ الدَّوَاءِ، لَمْ يَنْفَعْ، وَمَتَى كَانَ الْبَدَنُ غَيْرَ قَابِلٍ لَهُ، أَوِ الْقُوَّةُ عَاجِزَةً عَنْ حَمْلِهِ، أَوْ ثَمَّ مَانِعٌ يَمْنَعُ مِنْ تَأْثِيرِهِ، لَمْ يَحْصُلِ الْبُرْءُ لِعَدَمِ الْمُصَادَفَةِ، وَمَتَى تَمَّتِ الْمُصَادَفَةُ حَصَلَ الْبُرْءُ بِإِذْنِ الله ولابد، وَهَذَا أَحْسَنُ الْمَحْمِلَيْنِ فِي الْحَدِيثِ
كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣ - ابن القيم
Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata :
".... Sesungguhnya tidak ada satu pun makhluk kecuali memiliki lawan (pasangan), dan setiap penyakit memiliki lawan berupa obat yang dapat menyembuhkannya. Maka Nabi ﷺ mengaitkan kesembuhan dengan kesesuaian antara obat dan penyakitnya.
Kesesuaian ini adalah faktor tambahan di luar sekadar adanya obat itu sendiri. Sebab, apabila dosis obat melebihi kadar penyakit dalam hal kualitas (kekuatannya) atau melebihi kuantitas (dosis) yang seharusnya, maka obat itu justru akan menimbulkan penyakit baru.
Sebaliknya, jika dosisnya kurang, maka obat tersebut tidak akan mampu melawan penyakit dan pengobatan menjadi tidak efektif. Jika tabib tidak menemukan obat yang tepat, atau obat tidak mengenai sasaran penyakitnya, maka kesembuhan tidak akan terjadi.
Begitu pula jika waktu pemberian obat tidak tepat, maka tidak akan bermanfaat. Jika tubuh tidak siap menerimanya, atau daya tahan tubuh terlalu lemah untuk menanggung efek obat tersebut, atau ada penghalang yang mencegah pengaruhnya, maka kesembuhan tidak akan terjadi karena tidak adanya kecocokan (sinkronisasi).
Namun, apabila terjadi kecocokan yang sempurna, maka kesembuhan pasti akan terjadi dengan izin Allah. Inilah penafsiran terbaik dari dua kemungkinan makna dalam hadits tersebut."
📚 Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13










