Memahami Makna Terkait Hadits "Semua penyakit ada obatnya"
وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِنَ الْعَامِّ الْمُرَادِ بِهِ الْخَاصُّ، لَا سِيَّمَا وَالدَّاخِلُ فِي اللَّفْظِ أَضْعَافُ أَضْعَافِ الْخَارِجِ مِنْهُ، وَهَذَا يُسْتَعْمَلُ فِي كُلِّ لِسَانٍ، وَيَكُونُ الْمُرَادُ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً يَقْبَلُ الدَّوَاءَ إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْأَدْوَاءُ الَّتِي لَا تَقْبَلُ الدَّوَاءَ، وَهَذَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الرِّيحِ الَّتِي سَلَّطَهَا عَلَى قَوْمِ عَادٍ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّها «١» أَيْ كُلُّ شَيْءٍ يَقْبَلُ التَّدْمِيرَ، وَمِنْ شَأْنِ الرِّيحِ أَنْ تُدَمِّرَهُ، وَنَظَائِرُهُ كَثِيرَةٌ.
وَمَنْ تَأَمَّلَ خَلْقَ الْأَضْدَادِ فِي هَذَا الْعَالَمِ، وَمُقَاوَمَةَ بَعْضِهَا لِبَعْضٍ، وَدَفْعَ بَعْضِهَا بِبَعْضٍ وَتَسْلِيطَ بَعْضِهَا عَلَى بَعْضٍ، تَبَيَّنَ لَهُ كَمَالُ قُدْرَةِ الرَّبِّ تَعَالَى، وَحِكْمَتُهُ، وَإِتْقَانُهُ مَا صَنَعَهُ، وَتَفَرُّدُهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَالْوَحْدَانِيَّةِ، وَالْقَهْرِ، وَأَنَّ كُلَّ مَا سِوَاهُ فَلَهُ مَا يُضَادُّهُ وَيُمَانِعُهُ، كَمَا أَنَّهُ الْغَنِيُّ بِذَاتِهِ، وَكُلُّ مَا سِوَاهُ مُحْتَاجٌ بِذَاتِهِ.
كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣ - ابن القيم
Dalam kitab Ath-Thibb an-Nabawi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan
"Bahwa hadits tersebut termasuk dalam kategori kalimat umum yang bermakna khusus. Terlebih lagi, jumlah (penyakit) yang tercakup dalam lafazh tersebut jauh lebih banyak berkali-kali lipat dibandingkan yang dikecualikan. Gaya bahasa seperti ini digunakan dalam setiap bahasa.
Maksudnya adalah: Allah tidak menurunkan suatu penyakit yang bisa menerima obat, melainkan Allah telah menyediakan obat baginya. Maka, tidak termasuk dalam hal ini penyakit-penyakit yang memang tidak bisa menerima obat (seperti kematian atau penuaan). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala mengenai angin yang dikirimkan kepada kaum 'Ad: 'Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb-nya' (QS. Al-Ahqaf: 25), yakni segala sesuatu yang memang bisa hancur dan sudah menjadi karakter angin untuk menghancurkannya. Contoh-contoh serupa ini sangatlah banyak.
Barangsiapa yang merenungkan penciptaan hal-hal yang berlawanan di alam semesta ini—bagaimana sebagiannya melawan yang lain, menolak yang lain, dan mengalahkan yang lain—niscaya akan jelas baginya kesempurnaan kekuasaan Rabb Ta'ala, hikmah-Nya, ketelitian ciptaan-Nya, serta keesaan-Nya dalam sifat Rububiyah dan kekuasaan-Nya. Segala sesuatu selain Allah pasti memiliki lawan yang menandingi dan menghalanginya. Sebagaimana Allah Maha Kaya (Mandiri) dengan Zat-Nya, maka segala sesuatu selain-Nya pasti butuh (bergantung) dengan zatnya masing-masing."
📚 Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13










