Jumat, 24 April 2026

Hubungan Antara Takdir, Usaha (Sebab), dan Kesembuhan


 



Hubungan Antara Takdir, Usaha (Sebab), dan Kesembuhan



وَيُقَالُ لِمُورِدِ هَذَا السُّؤَالِ «هَذَا يُوجِبُ عليك ألاتباشر سَبَبًا مِنَ الْأَسْبَابِ الَّتِي تَجْلِبُ بِهَا مَنْفَعَةً، أَوْ تَدْفَعُ بِهَا مَضَرَّةً، لِأَنَّ الْمَنْفَعَةَ وَالْمَضَرَّةَ إِنْ قُدِّرَتَا، لَمْ يَكُنْ بُدٌّ مِنْ وُقُوعِهِمَا، وَإِنْ لَمْ تُقَدَّرَا لَمْ يَكُنْ سَبِيلٌ إِلَى وُقُوعِهِمَا، وَفِي ذَلِكَ خَرَابُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَفَسَادُ الْعَالَمِ، وَهَذَا لَا يَقُولُهُ إِلَّا دَافِعٌ لِلْحَقِّ، مُعَانِدٌ لَهُ، فَيَذْكُرُ الْقَدَرَ لِيَدْفَعَ حُجَّةَ الْمُحِقِّ عَلَيْهِ، كَالْمُشْرِكِينَ الَّذِينَ قَالُوا: لَوْ شاءَ اللَّهُ ما أَشْرَكْنا وَلا آباؤُنا «١» ، ولَوْ شاءَ اللَّهُ مَا عَبَدْنا مِنْ دُونِهِ مِنْ شَيْءٍ نَحْنُ وَلا آباؤُنا «٢» . فَهَذَا قَالُوهُ دَفْعًا لِحُجَّةِ اللَّهِ عَلَيْهِمْ بِالرُّسُلِ.
وَجَوَابُ هَذَا السَّائِلِ أَنْ يُقَالَ: بَقِيَ قِسْمٌ ثَالِثٌ لَمْ تَذْكُرْهُ، وَهُوَ أَنَّ اللَّهَ قَدَّرَ كَذَا وَكَذَا بِهَذَا السَّبَبِ. فَإِنْ أَتَيْتَ بِالسَّبَبِ حَصَلَ الْمُسَبَّبُ، وَإِلَّا فَلَا. فَإِنْ قَالَ: إِنْ كَانَ قَدَّرَ لِي السَّبَبَ، فَعَلْتُهُ، وَإِنْ لَمْ يقدّره لي لم أتمكن من فعله.

قِيلَ: فَهَلْ تَقْبَلُ هَذَا الِاحْتِجَاجَ مِنْ عَبْدِكَ، وَوَلَدِكَ، وَأَجِيرِكَ إِذَا احْتَجَّ بِهِ عَلَيْكَ فِيمَا أَمَرْتَهُ بِهِ، وَنَهَيْتَهُ عَنْهُ فَخَالَفَكَ؟ فَإِنْ قَبِلْتَهُ، فَلَا تَلُمْ مَنْ عَصَاكَ، وَأَخَذَ مَالَكَ، وَقَذَفَ عِرْضَكَ، وَضَيَّعَ حُقُوقَكَ. وَإِنْ لَمْ تَقْبَلْهُ، فَكَيْفَ يَكُونُ مَقْبُولًا مِنْكَ فِي دَفْعِ حُقُوقِ اللَّهِ عَلَيْكَ. وَقَدْ رُوِيَ فِي أَثَرٍ إسْرَائِيلِيٍّ: أَنَّ إبْرَاهِيمَ الْخَلِيلَ قَالَ؛ يَا رَبِّ مِمَّنِ الدَّاءُ؟ قَالَ: «مِنِّي» . قَالَ: «فَمِمَّنِ الدَّوَاءُ؟» ؟ قَالَ: «مِنِّي» . قَالَ: فَمَا بَالُ الطَّبِيبِ؟، قَالَ: «رَجُلٌ أُرْسِلُ الدَّوَاءَ عَلَى يَدَيْهِ» .
وَفِي قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ» ، تَقْوِيَةٌ لِنَفْسِ الْمَرِيضِ وَالطَّبِيبِ، وَحَثٌّ عَلَى طَلَبِ ذَلِكَ الدَّوَاءِ وَالتَّفْتِيشِ عَلَيْهِ، فَإِنَّ الْمَرِيضَ إِذَا اسْتَشْعَرَتْ نَفْسُهُ أَنَّ لِدَائِهِ دَوَاءً يُزِيلُهُ، تَعَلَّقَ قَلْبُهُ بِرُوحِ الرِّجَاءِ، وَبَرَدَتْ عِنْدَهُ حَرَارَةُ الْيَأْسِ، وَانْفَتَحَ لَهُ باب الرجاء، متى قَوِيَتْ نَفْسُهُ انْبَعَثَتْ حَرَارَتُهُ الْغَرِيزِيَّةُ، وَكَانَ ذَلِكَ سَبَبًا لِقُوَّةِ الْأَرْوَاحِ الْحَيَوَانِيَّةِ وَالنَّفْسَانِيَّةِ وَالطَّبِيعِيَّةِ، وَمَتَى قَوِيَتْ هَذِهِ الْأَرْوَاحُ، قَوِيَتِ الْقُوَى الَّتِي هِيَ حَامِلَةٌ لَهَا، فَقَهَرَتِ الْمَرَضَ وَدَفَعَتْهُ.
وَكَذَلِكَ الطَّبِيبُ إِذَا عَلِمَ أَنَّ لِهَذَا الدَّاءِ دَوَاءً أَمْكَنَهُ طَلَبُهُ وَالتَّفْتِيشُ عَلَيْهِ.
وَأَمْرَاضُ الْأَبْدَانِ عَلَى وِزَانِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ، وَمَا جَعَلَ اللَّهُ لِلْقَلْبِ مَرَضًا إِلَّا جَعَلَ لَهُ شِفَاءً بِضَدِّهِ، فَإِنْ عَلِمَهُ صَاحِبُ الدَّاءِ وَاسْتَعْمَلَهُ، وَصَادَفَ دَاءَ قَلْبِهِ، أَبْرَأَهُ بإذن الله تعالى
 كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٤-١٥  - ابن القيم

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahulllah menjelaskan,

"Dan dikatakan kepada orang yang mengajukan pertanyaan ini (tentang takdir): 'Logika Anda ini mengharuskan Anda untuk tidak melakukan usaha (sebab) apa pun yang dapat mendatangkan manfaat atau menolak bahaya. Karena jika manfaat dan bahaya itu sudah ditakdirkan, maka pasti akan terjadi; dan jika tidak ditakdirkan, maka tidak akan ada jalan untuk merasakannya.'

Sikap seperti ini mengakibatkan hancurnya urusan agama dan dunia serta rusaknya tatanan alam. Tidak ada yang berucap demikian kecuali orang yang menentang kebenaran dan keras kepala, yang menyebut-nyebut takdir hanya untuk menolak argumen orang yang benar atas dirinya. Persis seperti kaum musyrik yang berkata: 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak mempersekutukan-Nya, begitu pula bapak-bapak kami.' Mereka mengucapkan itu hanya untuk menolak hujah Allah yang disampaikan melalui para Rasul.

Jawaban bagi penanya ini adalah: 'Masih ada bagian ketiga yang belum Anda sebutkan, yaitu: Bahwa Allah telah menakdirkan begini dan begitu terjadi MELALUI sebab ini dan itu. Jika Anda melakukan sebabnya, maka hasilnya akan terjadi. Jika tidak, maka tidak akan terjadi.'

Jika ia membela diri lagi: 'Jika Allah telah mentakdirkan sebab itu bagiku, pasti aku melakukannya. Jika Dia tidak mentakdirkannya, aku tidak akan mampu melakukannya.'

Maka dikatakan kepadanya: 'Apakah Anda mau menerima alasan (takdir) ini dari pelayan Anda, anak Anda, atau pegawai Anda jika mereka melanggar perintah dan larangan Anda? Jika Anda menerimanya, maka janganlah mencela siapa pun yang mendurhakai Anda, mengambil harta Anda, mencoreng kehormatan Anda, atau mengabaikan hak-hak Anda. Namun, jika Anda tidak mau menerimanya dari mereka, bagaimana mungkin alasan itu bisa diterima darimu saat Anda mengabaikan hak-hak Allah atas dirimu?'

Telah diriwayatkan dalam atsar Israiliyat: Bahwa Ibrahim Al-Khalil bertanya: 'Wahai Rabb-ku, dari manakah datangnya penyakit?' Allah berfirman: 'Dari-Ku.' Ibrahim bertanya: 'Lalu dari manakah datangnya obat?' Allah berfirman: 'Dari-Ku.' Ibrahim bertanya: 'Lalu apa peran tabib (dokter)?' Allah berfirman: 'Ia adalah seseorang yang Aku kirimkan obat melalui tangannya.'

Dalam sabda Nabi ﷺ: 'Setiap penyakit ada obatnya,' terdapat penguatan bagi mental si sakit maupun dokter, serta dorongan untuk mencari dan meneliti obat tersebut. Sebab, jika si sakit merasa bahwa penyakitnya memiliki obat yang bisa menyembuhkannya, hatinya akan terpaut pada harapan, rasa putus asanya akan mendingin, dan pintu harapan terbuka baginya. Saat jiwanya menguat, energi alaminya akan bangkit, dan itu menjadi sebab kuatnya ruh (vitalitas) jasmani dan rohani. Ketika energi ini kuat, maka kekuatan tubuh yang mengembannya pun ikut kuat, sehingga ia mampu menaklukkan dan mengusir penyakit.

Begitu pula dengan dokter; jika ia tahu bahwa penyakit tersebut ada obatnya, ia akan bersemangat mencari dan menelitinya.

Penyakit badan itu serupa dengan penyakit hati. Tidaklah Allah menjadikan penyakit bagi hati, melainkan Dia telah menyediakan kesembuhan melalui lawannya (obatnya). Jika si penderita mengetahuinya, menggunakannya, dan obat itu tepat mengenai penyakit hatinya, maka ia akan sembuh dengan izin Allah Ta'ala."

📚  Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 14-15

Jumat, 17 April 2026

Berobat Tidak Menafikan Tawakal




Berobat Tidak Menafikan Tawakal


وَفِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْأَمْرُ بِالتَّدَاوِي، وَأَنَّهُ لَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ، كَمَا لَا يُنَافِيهِ دَفْعُ دَاءِ الْجَوْعِ، وَالْعَطَشِ، وَالْحَرِّ، وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا، بَلْ لَا تَتِمُّ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ إِلَّا بِمُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ الَّتِي نَصَبَهَا اللَّهُ مُقْتَضَيَاتٍ لِمُسَبَّبَاتِهَا قَدَرًا وَشَرْعًا، وَأَنَّ تَعْطِيلَهَا يَقْدَحُ فِي نَفْسِ التَّوَكُّلِ، كَمَا يَقْدَحُ فِي الْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ، وَيُضْعِفُهُ مِنْ حَيْثُ يَظُنُّ مُعَطِّلُهَا أَنَّ تَرْكَهَا أَقْوَى فِي التَّوَكُّلِ، فَإِنَّ تَرْكَهَا عَجْزًا يُنَافِي التوكل الذي حقيقته اعتماد الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ فِي حُصُولِ مَا يَنْفَعُ الْعَبْدَ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَدَفْعِ مَا يَضُرُّهُ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلُ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا.

وَفِيهَا رَدٌّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ التَّدَاوِي، وَقَالَ: إِنْ كَانَ الشِّفَاءُ قَدْ قُدِّرَ، فَالتَّدَاوِي لَا يُفِيدُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَدْ قُدِّرَ، فَكَذَلِكَ وَأَيْضًا، فَإِنَّ الْمَرَضَ حَصَلَ بِقَدَرِ اللَّهِ، وَقَدَرُ اللَّهِ لَا يُدْفَعُ وَلَا يُرَدُّ، وَهَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي أَوْرَدَهُ الْأَعْرَابُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم. وَأَمَّا أَفَاضِلُ الصِّحَابَةِ، فَأَعْلَمُ بِاَللَّهِ وَحِكْمَتِهِ وَصِفَاتِهِ مِنْ أَنْ يُورِدُوا مِثْلَ هَذَا، وَقَدْ أَجَابَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا شَفَى وَكَفَى، فَقَالَ: هَذِهِ الْأَدْوِيَةُ وَالرُّقَى وَالتُّقَى هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ، فَمَا خَرَجَ شَيْءٌ عَنْ قَدَرِهِ، بَلْ يُرَدُّ قَدَرُهُ بِقَدَرِهِ، وَهَذَا الرَّدُّ مِنْ قَدَرِهِ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى الْخُرُوجِ عَنْ قَدَرِهِ بِوَجْهٍ مَا، وَهَذَا كَرَدِّ قَدَرِ الْجُوعِ، وَالْعَطَشِ وَالْحَرِّ، وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا، وَكَرَدِّ قَدَرِ الْعَدُوِّ بِالْجِهَادِ، وَكُلٌّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ الدَّافِعُ وَالْمَدْفُوعُ وَالدَّفْعُ.
 كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣-١٤  - ابن القيم

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya  menjelaskan,

"Dalam hadits-hadits yang shahih, terdapat perintah untuk berobat. Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal, sebagaimana tidak bertentangannya usaha menangani rasa lapar, haus, panas, dan dingin dengan lawan-lawannya (makan, minum, berteduh, dan berpakaian hangat).
Bahkan, hakikat tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan menempuh sebab-sebab (usaha) yang telah Allah tetapkan sebagai perantara untuk mencapai hasil, baik secara takdir maupun syariat. Mengabaikan sebab-sebab tersebut justru mencacati hakikat tawakal itu sendiri, sebagaimana ia mencacati perintah dan hikmah Allah. Orang yang meninggalkan usaha sering kali melemahkan tawakalnya karena ia menyangka bahwa meninggalkan usaha itu lebih kuat tawakalnya. Padahal, meninggalkan usaha karena ketidakberdayaan (malas) justru bertentangan dengan tawakal.
Hakikat tawakal yang sebenarnya adalah bersandarnya hati kepada Allah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan agama maupun dunianya, serta menolak apa yang membahayakannya dalam urusan agama maupun dunianya. Namun, penyandaran hati ini harus disertai dengan melakukan usaha. Jika tidak, maka ia telah mengabaikan hikmah dan syariat Allah. Maka, janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai alasan tawakal, dan jangan menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk menjadi lemah (tidak berusaha).

Di dalam hadits-hadits tersebut juga terdapat bantahan bagi orang yang mengingkari pengobatan dengan berkata: 'Jika kesembuhan telah ditakdirkan, maka berobat tidak ada gunanya. Jika tidak ditakdirkan, maka juga sama saja (tidak akan sembuh). Lagipula, penyakit itu terjadi karena takdir Allah, sedangkan takdir Allah tidak bisa ditolak atau ditangkis.'
Pertanyaan inilah yang dahulu diajukan oleh orang-orang Arab Badui kepada Rasulullah ﷺ. Adapun para shahabat yang utama, mereka lebih mengenal Allah, hikmah-Nya, dan sifat-sifat-Nya sehingga tidak mungkin mengajukan pertanyaan semacam itu. Nabi ﷺ pun menjawab mereka dengan jawaban yang memuaskan dan mencukupi :

هَذِهِ الْأَدْوِيَةُ وَالرُّقَى وَالتُّقَى هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ،

'Obat-obatan, rukiah, dan ketakwaan ini juga termasuk bagian dari takdir Allah.'
Maka, tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Bahkan, takdir Allah ditolak dengan takdir-Nya pula, dan tindakan menolak itu sendiri adalah bagian dari takdir-Nya. Tidak ada jalan untuk keluar dari takdir Allah dalam bentuk apa pun. Hal ini sebagaimana menolak takdir lapar dengan makan, haus dengan minum, serta panas dan dingin dengan lawan-lawannya. Begitu pula menolak takdir musuh dengan jihad. Semuanya adalah takdir Allah: baik yang menolak, yang ditolak, maupun tindakan penolakannya."

📚  Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13-14

Sabtu, 11 April 2026

Memahami Makna Terkait Hadits "Semua penyakit ada obatnya"



Memahami Makna Terkait Hadits "Semua penyakit ada obatnya"


وَالثَّانِي: أَنْ يَكُونَ مِنَ الْعَامِّ الْمُرَادِ بِهِ الْخَاصُّ، لَا سِيَّمَا وَالدَّاخِلُ فِي اللَّفْظِ أَضْعَافُ أَضْعَافِ الْخَارِجِ مِنْهُ، وَهَذَا يُسْتَعْمَلُ فِي كُلِّ لِسَانٍ، وَيَكُونُ الْمُرَادُ أَنَّ اللَّهَ لَمْ يَضَعْ دَاءً يَقْبَلُ الدَّوَاءَ إِلَّا وَضَعَ لَهُ دَوَاءً، فَلَا يَدْخُلُ فِي هَذَا الْأَدْوَاءُ الَّتِي لَا تَقْبَلُ الدَّوَاءَ، وَهَذَا كَقَوْلِهِ تَعَالَى فِي الرِّيحِ الَّتِي سَلَّطَهَا عَلَى قَوْمِ عَادٍ تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِأَمْرِ رَبِّها «١» أَيْ كُلُّ شَيْءٍ يَقْبَلُ التَّدْمِيرَ، وَمِنْ شَأْنِ الرِّيحِ أَنْ تُدَمِّرَهُ، وَنَظَائِرُهُ كَثِيرَةٌ.

وَمَنْ تَأَمَّلَ خَلْقَ الْأَضْدَادِ فِي هَذَا الْعَالَمِ، وَمُقَاوَمَةَ بَعْضِهَا لِبَعْضٍ، وَدَفْعَ بَعْضِهَا بِبَعْضٍ وَتَسْلِيطَ بَعْضِهَا عَلَى بَعْضٍ، تَبَيَّنَ لَهُ كَمَالُ قُدْرَةِ الرَّبِّ تَعَالَى، وَحِكْمَتُهُ، وَإِتْقَانُهُ مَا صَنَعَهُ، وَتَفَرُّدُهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَالْوَحْدَانِيَّةِ، وَالْقَهْرِ، وَأَنَّ كُلَّ مَا سِوَاهُ فَلَهُ مَا يُضَادُّهُ وَيُمَانِعُهُ، كَمَا أَنَّهُ الْغَنِيُّ بِذَاتِهِ، وَكُلُّ مَا سِوَاهُ مُحْتَاجٌ بِذَاتِهِ.

 كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣  - ابن القيم


Dalam kitab Ath-Thibb an-Nabawi Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan

"Bahwa hadits tersebut termasuk dalam kategori kalimat umum yang bermakna khusus. Terlebih lagi, jumlah (penyakit) yang tercakup dalam lafazh tersebut jauh lebih banyak berkali-kali lipat dibandingkan yang dikecualikan. Gaya bahasa seperti ini digunakan dalam setiap bahasa.
Maksudnya adalah: Allah tidak menurunkan suatu penyakit yang bisa menerima obat, melainkan Allah telah menyediakan obat baginya. Maka, tidak termasuk dalam hal ini penyakit-penyakit yang memang tidak bisa menerima obat (seperti kematian atau penuaan). Hal ini sebagaimana firman Allah Ta'ala mengenai angin yang dikirimkan kepada kaum 'Ad: 'Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabb-nya' (QS. Al-Ahqaf: 25), yakni segala sesuatu yang memang bisa hancur dan sudah menjadi karakter angin untuk menghancurkannya. Contoh-contoh serupa ini sangatlah banyak.

Barangsiapa yang merenungkan penciptaan hal-hal yang berlawanan di alam semesta ini—bagaimana sebagiannya melawan yang lain, menolak yang lain, dan mengalahkan yang lain—niscaya akan jelas baginya kesempurnaan kekuasaan Rabb Ta'ala, hikmah-Nya, ketelitian ciptaan-Nya, serta keesaan-Nya dalam sifat Rububiyah dan kekuasaan-Nya. Segala sesuatu selain Allah pasti memiliki lawan yang menandingi dan menghalanginya. Sebagaimana Allah Maha Kaya (Mandiri) dengan Zat-Nya, maka segala sesuatu selain-Nya pasti butuh (bergantung) dengan zatnya masing-masing."

📚  Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13


Jumat, 03 April 2026

Memahami Hakikat Kesembuhan Melalui Kesesuaian Da' (Penyakit) dan Dawa' (Obat)



Memahami Hakikat Kesembuhan Melalui Kesesuaian Da' (Penyakit) dan Dawa' (Obat)


فَإِنَّهُ لَا شَيْءَ مِنَ الْمَخْلُوقَاتِ إِلَّا لَهُ ضِدٌّ، وَكُلُّ دَاءٍ لَهُ ضِدٌّ مِنَ الدَّوَاءِ يُعَالَجُ بِضِدِّهِ، فَعَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبُرْءَ بِمُوَافَقَةِ الدَّاءِ لِلدَّوَاءِ، وَهَذَا قَدْرٌ زَائِدٌ عَلَى مُجَرَّدِ وَجُودِهِ، فَإِنَّ الدَّوَاءَ مَتَى جَاوَزَ دَرَجَةَ الدَّاءِ فِي الْكَيْفِيَّةِ، أَوْ زَادَ فِي الْكَمِّيَّةِ عَلَى مَا يَنْبَغِي، نَقَلَهُ إِلَى دَاءٍ آخَرَ، وَمَتَى قَصَرَ عَنْهَا لَمْ يَفِ بِمُقَاوَمَتِهِ، وَكَانَ الْعِلَاجُ قَاصِرًا، وَمَتَى لَمْ يَقَعِ الْمُدَاوِي عَلَى الدَّوَاءِ، أَوْ لَمْ يَقَعِ الدَّوَاءُ عَلَى الدَّاءِ، لَمْ يَحْصُلِ الشِّفَاءُ، وَمَتَى لَمْ يَكُنِ الزَّمَانُ صَالِحًا لِذَلِكَ الدَّوَاءِ، لَمْ يَنْفَعْ، وَمَتَى كَانَ الْبَدَنُ غَيْرَ قَابِلٍ لَهُ، أَوِ الْقُوَّةُ عَاجِزَةً عَنْ حَمْلِهِ، أَوْ ثَمَّ مَانِعٌ يَمْنَعُ مِنْ تَأْثِيرِهِ، لَمْ يَحْصُلِ الْبُرْءُ لِعَدَمِ الْمُصَادَفَةِ، وَمَتَى تَمَّتِ الْمُصَادَفَةُ حَصَلَ الْبُرْءُ بِإِذْنِ الله ولابد، وَهَذَا أَحْسَنُ الْمَحْمِلَيْنِ فِي الْحَدِيثِ
 كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣  - ابن القيم

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata :
".... Sesungguhnya tidak ada satu pun makhluk kecuali memiliki lawan (pasangan), dan setiap penyakit memiliki lawan berupa obat yang dapat menyembuhkannya. Maka Nabi ﷺ mengaitkan kesembuhan dengan kesesuaian antara obat dan penyakitnya.

Kesesuaian ini adalah faktor tambahan di luar sekadar adanya obat itu sendiri. Sebab, apabila dosis obat melebihi kadar penyakit dalam hal kualitas (kekuatannya) atau melebihi kuantitas (dosis) yang seharusnya, maka obat itu justru akan menimbulkan penyakit baru.

Sebaliknya, jika dosisnya kurang, maka obat tersebut tidak akan mampu melawan penyakit dan pengobatan menjadi tidak efektif. Jika tabib tidak menemukan obat yang tepat, atau obat tidak mengenai sasaran penyakitnya, maka kesembuhan tidak akan terjadi.

Begitu pula jika waktu pemberian obat tidak tepat, maka tidak akan bermanfaat. Jika tubuh tidak siap menerimanya, atau daya tahan tubuh terlalu lemah untuk menanggung efek obat tersebut, atau ada penghalang yang mencegah pengaruhnya, maka kesembuhan tidak akan terjadi karena tidak adanya kecocokan (sinkronisasi).

Namun, apabila terjadi kecocokan yang sempurna, maka kesembuhan pasti akan terjadi dengan izin Allah. Inilah penafsiran terbaik dari dua kemungkinan makna dalam hadits tersebut."

📚  Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13

Manfaat Jalan Kaki 7.000 Langkah Per Hari: Tinjauan Sains, Medis, dan Agama Islam

  Manfaat Jalan Kaki 7.000 Langkah Per Hari: Tinjauan Sains, Medis, dan Agama Islam Selama bertahun-tahun, angka 10.000 langkah sering diang...