Berobat Tidak Menafikan Tawakal
وَفِي الْأَحَادِيثِ الصَّحِيحَةِ الْأَمْرُ بِالتَّدَاوِي، وَأَنَّهُ لَا يُنَافِي التَّوَكُّلَ، كَمَا لَا يُنَافِيهِ دَفْعُ دَاءِ الْجَوْعِ، وَالْعَطَشِ، وَالْحَرِّ، وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا، بَلْ لَا تَتِمُّ حَقِيقَةُ التَّوْحِيدِ إِلَّا بِمُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ الَّتِي نَصَبَهَا اللَّهُ مُقْتَضَيَاتٍ لِمُسَبَّبَاتِهَا قَدَرًا وَشَرْعًا، وَأَنَّ تَعْطِيلَهَا يَقْدَحُ فِي نَفْسِ التَّوَكُّلِ، كَمَا يَقْدَحُ فِي الْأَمْرِ وَالْحِكْمَةِ، وَيُضْعِفُهُ مِنْ حَيْثُ يَظُنُّ مُعَطِّلُهَا أَنَّ تَرْكَهَا أَقْوَى فِي التَّوَكُّلِ، فَإِنَّ تَرْكَهَا عَجْزًا يُنَافِي التوكل الذي حقيقته اعتماد الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ فِي حُصُولِ مَا يَنْفَعُ الْعَبْدَ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَدَفْعِ مَا يَضُرُّهُ فِي دِينِهِ وَدُنْيَاهُ، وَلَا بُدَّ مَعَ هَذَا الِاعْتِمَادِ مِنْ مُبَاشَرَةِ الْأَسْبَابِ، وَإِلَّا كَانَ مُعَطِّلًا لِلْحِكْمَةِ وَالشَّرْعِ، فَلَا يَجْعَلُ الْعَبْدُ عَجْزَهُ تَوَكُّلًا، وَلَا تَوَكُّلَهُ عَجْزًا.
وَفِيهَا رَدٌّ عَلَى مَنْ أَنْكَرَ التَّدَاوِي، وَقَالَ: إِنْ كَانَ الشِّفَاءُ قَدْ قُدِّرَ، فَالتَّدَاوِي لَا يُفِيدُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَدْ قُدِّرَ، فَكَذَلِكَ وَأَيْضًا، فَإِنَّ الْمَرَضَ حَصَلَ بِقَدَرِ اللَّهِ، وَقَدَرُ اللَّهِ لَا يُدْفَعُ وَلَا يُرَدُّ، وَهَذَا السُّؤَالُ هُوَ الَّذِي أَوْرَدَهُ الْأَعْرَابُ على رسول الله صلى الله عليه وسلم. وَأَمَّا أَفَاضِلُ الصِّحَابَةِ، فَأَعْلَمُ بِاَللَّهِ وَحِكْمَتِهِ وَصِفَاتِهِ مِنْ أَنْ يُورِدُوا مِثْلَ هَذَا، وَقَدْ أَجَابَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَا شَفَى وَكَفَى، فَقَالَ: هَذِهِ الْأَدْوِيَةُ وَالرُّقَى وَالتُّقَى هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ، فَمَا خَرَجَ شَيْءٌ عَنْ قَدَرِهِ، بَلْ يُرَدُّ قَدَرُهُ بِقَدَرِهِ، وَهَذَا الرَّدُّ مِنْ قَدَرِهِ، فَلَا سَبِيلَ إِلَى الْخُرُوجِ عَنْ قَدَرِهِ بِوَجْهٍ مَا، وَهَذَا كَرَدِّ قَدَرِ الْجُوعِ، وَالْعَطَشِ وَالْحَرِّ، وَالْبَرْدِ بِأَضْدَادِهَا، وَكَرَدِّ قَدَرِ الْعَدُوِّ بِالْجِهَادِ، وَكُلٌّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ الدَّافِعُ وَالْمَدْفُوعُ وَالدَّفْعُ.
كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٣-١٤ - ابن القيم
Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya menjelaskan,
"Dalam hadits-hadits yang shahih, terdapat perintah untuk berobat. Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan tawakal, sebagaimana tidak bertentangannya usaha menangani rasa lapar, haus, panas, dan dingin dengan lawan-lawannya (makan, minum, berteduh, dan berpakaian hangat).
Bahkan, hakikat tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan menempuh sebab-sebab (usaha) yang telah Allah tetapkan sebagai perantara untuk mencapai hasil, baik secara takdir maupun syariat. Mengabaikan sebab-sebab tersebut justru mencacati hakikat tawakal itu sendiri, sebagaimana ia mencacati perintah dan hikmah Allah. Orang yang meninggalkan usaha sering kali melemahkan tawakalnya karena ia menyangka bahwa meninggalkan usaha itu lebih kuat tawakalnya. Padahal, meninggalkan usaha karena ketidakberdayaan (malas) justru bertentangan dengan tawakal.
Hakikat tawakal yang sebenarnya adalah bersandarnya hati kepada Allah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagi hamba dalam urusan agama maupun dunianya, serta menolak apa yang membahayakannya dalam urusan agama maupun dunianya. Namun, penyandaran hati ini harus disertai dengan melakukan usaha. Jika tidak, maka ia telah mengabaikan hikmah dan syariat Allah. Maka, janganlah seorang hamba menjadikan kelemahannya sebagai alasan tawakal, dan jangan menjadikan tawakalnya sebagai alasan untuk menjadi lemah (tidak berusaha).
Di dalam hadits-hadits tersebut juga terdapat bantahan bagi orang yang mengingkari pengobatan dengan berkata: 'Jika kesembuhan telah ditakdirkan, maka berobat tidak ada gunanya. Jika tidak ditakdirkan, maka juga sama saja (tidak akan sembuh). Lagipula, penyakit itu terjadi karena takdir Allah, sedangkan takdir Allah tidak bisa ditolak atau ditangkis.'
Pertanyaan inilah yang dahulu diajukan oleh orang-orang Arab Badui kepada Rasulullah ﷺ. Adapun para shahabat yang utama, mereka lebih mengenal Allah, hikmah-Nya, dan sifat-sifat-Nya sehingga tidak mungkin mengajukan pertanyaan semacam itu. Nabi ﷺ pun menjawab mereka dengan jawaban yang memuaskan dan mencukupi :
هَذِهِ الْأَدْوِيَةُ وَالرُّقَى وَالتُّقَى هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ،
'Obat-obatan, rukiah, dan ketakwaan ini juga termasuk bagian dari takdir Allah.'
Maka, tidak ada sesuatu pun yang keluar dari takdir-Nya. Bahkan, takdir Allah ditolak dengan takdir-Nya pula, dan tindakan menolak itu sendiri adalah bagian dari takdir-Nya. Tidak ada jalan untuk keluar dari takdir Allah dalam bentuk apa pun. Hal ini sebagaimana menolak takdir lapar dengan makan, haus dengan minum, serta panas dan dingin dengan lawan-lawannya. Begitu pula menolak takdir musuh dengan jihad. Semuanya adalah takdir Allah: baik yang menolak, yang ditolak, maupun tindakan penolakannya."
📚 Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 13-14



Tidak ada komentar:
Posting Komentar