Jumat, 27 Maret 2026

Setiap Penyakit Ada Obatnya: Prinsip Asbab wa Musabbabat dalam Thibbun Nabawi



Setiap Penyakit Ada Obatnya: Prinsip Asbab wa Musabbabat dalam Thibbun Nabawi

وَفِي «مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ» : مِنْ حَدِيثِ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ، عَنْ أسامة بن شريك، قَالَ: كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَجَاءَتِ الْأَعْرَابُ، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَنَتَدَاوَى؟
فَقَالَ: «نَعَمْ يَا عِبَادَ اللَّهِ تَدَاوَوْا، فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يَضَعْ دَاءً إِلَّا وَضَعَ لَهُ شِفَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ» ، قَالُوا مَا هُوَ؟ قَالَ: «الْهَرَمُ» «١»
وَفِي لَفْظٍ: «إِنَّ الله لم ينزل داء إلّا أنزل شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ» «٢»

وَفِي «الْمُسْنَدِ» : مِنْ حَدِيثِ ابْنِ مَسْعُودٍ يَرْفَعُهُ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَمْ يُنْزِلْ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً، عَلِمَهُ مَنْ عَلِمَهُ، وَجَهِلَهُ مَنْ جَهِلَهُ» .

وَفِي «الْمُسْنَدِ» وَ «السُّنَنِ» «٣» عَنْ أبي خزامة، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! أَرَأَيْتَ رُقًى نَسْتَرْقِيهَا، وَدَوَاءً نَتَدَاوَى بِهِ، وَتُقَاةً نَتَّقِيهَا، هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ شَيْئًا؟ فَقَالَ «هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ» «٤» .

فَقَدْ تَضَمَّنَتْ هَذِهِ الْأَحَادِيثُ إثْبَاتَ الْأَسْبَابِ وَالْمُسَبَّبَاتِ. وَإِبْطَالَ قَوْلِ مَنْ أَنْكَرَهَا، وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ قَوْلُهُ: «لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءٌ» ، عَلَى عُمُومِهِ حَتَّى يَتَنَاوَلَ الْأَدْوَاءَ الْقَاتِلَةَ، وَالْأَدْوَاءَ الَّتِي لَا يُمْكِنُ لِطَبِيبٍ أَنْ يُبْرِئَهَا، وَيَكُونُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ جَعَلَ لَهَا أَدْوِيَةً تُبْرِئُهَا، وَلَكِنْ طَوَى عِلْمَهَا عَنِ الْبَشَرِ، وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُمْ إِلَيْهِ سَبِيلًا، لِأَنَّهُ لَا عِلْمَ لِلْخَلْقِ إِلَّا مَا عَلَّمَهُمُ اللَّهُ، وَلِهَذَا عَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم الشّفاء على مصادفة الدواء للداء،

 كتاب الطب النبوي لابن القيم ص ١٢  - ابن القيم


Dalam Musnad Imam Ahmad, dari hadis Ziyad bin 'Ilaqah, dari Usamah bin Syarik, ia berkata: "Aku berada di dekat Nabi ﷺ, lalu datanglah orang-orang Arab Badui dan bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kami boleh berobat?'
Beliau menjawab: 'Ya, wahai hamba-hamba Allah, berobatlah! Karena sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak menetapkan suatu penyakit kecuali menetapkan pula obatnya, kecuali satu penyakit.' Mereka bertanya: 'Penyakit apa itu?' Beliau menjawab: 'Ketuaan (usia tua).'"
Dalam redaksi lain disebutkan: "Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya; ada yang mengetahuinya dan ada pula yang tidak mengetahuinya."

Dalam Al-Musnad, dari hadis Ibnu Mas'ud secara marfu' (sampai kepada Nabi): "Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obat untuknya; diketahui oleh orang yang mengetahuinya, dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya."

Dan dalam Al-Musnad serta As-Sunan, dari Abu Khuzaimah, ia berkata: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang rukyah (doa-doa) yang kami gunakan, obat yang kami pakai untuk berobat, dan upaya perlindungan yang kami lakukan; apakah hal-hal tersebut dapat menolak takdir Allah sedikit pun?' Beliau menjawab: 'Hal-hal tersebut merupakan bagian dari takdir Allah.'"

Hadits-hadits ini mengandung penetapan adanya sebab dan akibat (asbab wa musabbabat), serta membatalkan pendapat orang-orang yang mengingkarinya.
Bisa jadi sabda beliau: "Setiap penyakit ada obatnya" berlaku secara umum, hingga mencakup penyakit-penyakit yang mematikan dan penyakit yang tidak sanggup disembuhkan oleh dokter. Allah 'Azza wa Jalla telah menciptakan obat yang dapat menyembuhkannya, namun Dia menyembunyikan ilmu tentang obat tersebut dari manusia dan tidak memberikan jalan bagi mereka untuk mengetahuinya. Sebab, makhluk tidak memiliki ilmu kecuali apa yang diajarkan oleh Allah. Oleh karena itu, Nabi ﷺ mengaitkan kesembuhan pada ketepatan obat dalam mengenai penyakitnya.

📚  Kitab Ath-Thibbun Nabawi karya Ibnul Qoyyim halaman 12


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Setiap Penyakit Ada Obatnya: Prinsip Asbab wa Musabbabat dalam Thibbun Nabawi

Setiap Penyakit Ada Obatnya: Prinsip Asbab wa Musabbabat dalam Thibbun Nabawi وَفِي «مُسْنَدِ الْإِمَامِ أَحْمَدَ» : مِنْ حَدِيثِ زِيَادِ ب...